Minggu, 20 Oktober 2013

Tugas Yang Kemaren

Hari ini gw mau ngeshare hasil pembakaran otak gw selama 5 jam buat nulis tulisan yang ga tau di sebut apa, jadi selamat membaca, dan semoga di terima di sisinya



Cita-cita ku
            Cita-cita, semua orang memiliki cita-cita, entah itu seorang presiden, anak kecil, maupun orang dewasa. Semua pasti memiliki cita-cita, cita-cita adalah sebuah mimpi tentang masa depan yang ingin dicapai oleh seseorang oleh karena itu cita-cita memiliki peran penting dalam kehidupan.
            Aku memiliki segudang cita-cita yang tak mungkin bias kuhitung. Mulai dari dari yeang realistis dan sampai hal-hal yang bias di bilang masuk akal. Seperti saat aku melihat sebuah film superhero, aku langsung memiliki pikiran “aku akan menjadi super hero suatu hari nanti” , saat aku melihat film “Detektif” aku pun juga memiliki keinginan menjadi seoarang detektif. Saat aku melihat polisi lalulintas yang sedang mengatur lalu lintas di jalan, akupun bercita-cita sebagai polisi. Semua itu adalah cita-citaku pada saat aku masih kecil.
            Saat beranjak remaja pola pemikiran ku mulai berubah, karena tidak mungkin juga ada manusia yang bisa menjadi pahlawan super atau sebagainya. Saat aku SMP aku sempat bercita-cita sebagai penyanyi professional, karena aku sangat suka bernyanyi walau hanya untuk dinikmati sendiri. Saat itu cita-cita ku masih sangat banyak dan belum dapat dipastikan.
            Saat ini aku telah menginjak bangku SMA, ya.. aku bersekolah di SMA Negeri 19 Surabaya sekolah Negeri terbesar di Surabaya. Di sinilah awal cita-citaku di mulai, aku belajar di sana, aku berteman, bergurau, atau pun bertengkar disana, ye memang masa ini adalah masa yang indah. Dan dimasa ini lah aku akan berusaha meraih cita-citaku.
            Seorang teman ku pernah bertanya “mengapa kau sangat ingin menjadai guru? Padahal menjadi guru itu kan susah” aku pun terdiam sejenak dan menjawab “ karena guru adalah suatu profesi yang mulia, dan tidak semua orang bias menjadi guru” saat itu aku mulai berpikir guru memang sebuah cita-cita dan prfesi yang sangat mulia.
           
Seorang guru bahasa inggris di SMP ku dulu adalah seoraang motivator ku, dan orang yang aku kagumi, walau dia sakit-sakitan dia sangat jarang absen dalam mengajar. Dia pernah mengatakan hal yang menurut ku sangat memotivasiku menjadi seorang guru. Dia berkata padaku “jika kau ingin mejadi guru kau haruslah menjadi orang yang paling pintar di dalam kelas, karena saat kau menerangkan suatu hal pada muridmu, kau harus lebih tau dari siapapun di kelas itu” itu merupakan kata-kaata yang sangat indah bagiku.
``          Sejak hari itu aku memutuskan aku akan menjadi guru Bahasa Inggris. Walaupun keampuan berbahasa inggris ku kurang baik, aku sangat ingmenjadi seorang guru Bahasa Inggris, sejak saat itu aku mulai suka mendengar music-musik berbahasa inggris, menonton film-film berbahasa inggris, mempelajari kosakata sulit, dan hal-hal lain.
            Menurut ku mempelajari Bahasa Inggris adalah hal yang sangat menyenangkan, karena kita dapat belajar berbahasa inggris melalui banyak hal, seperti menonton film barat, mendengar lagu-lagu bahasa inggris, mendengar seseorang yang sedang berpidato salam bahasa inggris, dan masih sangat banyak hal yang dapat kita perbuat untuk mempelajari bahasa Inggris.
            Setelah aku lulus SMA aku kuliah mengambil jurusan Sastra Inggris karena itulah tujuan ku, menjadi seorang guru bahasa inggris, dalam belajar bahasa inggris banyak sekali kesulitan yang sering aku dapatkan.
            Suatu hari aku hampir mengalami suatu perasa’an putus asa yang dikarenakan kehancuran nilai ku yang sangat tidak memuaskan, aku menangis sejadi-jadinya sampai aku ingat kata-kata guru bahasa inggris ku semasa SMP dulu “jika kau ingin mejadi guru kau haruslah menjadi orang yang paling pintar di dalam kelas, karena saat kau menerangkan suatu hal pada muridmu, kau harus lebih tau dari siapapun di kelas itu”. Setelah menginga kata-kata guruku aku pun bangkit dan melanjutkan study bahasa inggrisku.
            Aku lulus dengan nilai yang cukup memuasakan orang tuaku sangat bangga padaku. Namun dunia yang sesungguhnya sedang menanti kehadiran seorang anak yang baru menyelesaikan study nya.
            Setelah aku lulus aku banyak mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusaha’an, dan berharap agar mendapatkan pekerja’an yang layak, aku tau itu menyimpang cita-citaku tapi semua itu tetap kulakukan, karena saat itu aku berpikir, aku tidak ingin menjadi guru terlebih dahulu dan ingin mencari pengalaman lain.
            Aku diterima bekerja di sebuah perusaha’an yang lumayan besar sebagai pegawai honorer, aku sangat tertekan saat bekerja disana. Aku sangat tidak menikmati hidupku sebagai pegawai perusaha’an. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusaha’an itu setelah bekerja satu bulan.
            Setelah aku berhenti bekerja aku tidak di terima di perusaha’an manapun lagi, lalu aku mengingat cita-citaku yang sebenarnya yaitu menjadi guru Bahasa Inggris. Setelah aku berpikir dan terus berpikir, memang seharusnya aku terus mengejar cita-citaku sebagai guru Bahasa Inggris.
            Setelah memutuskan ingin mengejar cita-citaku aku pun menghubungi beberapa teman ku yang berprofesi sebagai guru, untuk meminta tolong mencarikan lowongan pekerja’an  sebagai guru.
            Aku pun bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di suatu sekolah swasta, aku membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk bias beradaptasi dengan sekolah, karena aku telah lama melupakan cita-citaku.
            Aku banyak di sukai oleh murid-murid di seklah itu karena cara mengajarku yang berbeda dari guru lain, aku pun dengan cepat dinaikkan pangkat dari guru honorer menjadi guru tetap. Tapi tidak lama kemudian aku di angkat menjadi pegawai negeri dan mengajar di sekolah negeri.
            Hidupku sebagai guru sangat menyenangkan aku bisa mengajar anak-anak supaya menjadi seseorang yang memiliki pengetahuan lebih. Dan dengan menjadi Guru aku dapat meraih Cita-citaku yang sejak awal aku impikan. Aku bangga sekali menjadi seorang Guru, seseorang yang bekerja dan berkorban “Tanpa Tanda Jasa”

2 komentar: